“Berusaha membuatmu peka atau menunggu hingga kau peka yang ntah sampai
kapan bahkan mungkin kau akan sadar disaat aku tak lagi ingin kau peka dengan
kehadiran ku..
Aku lupa udah brapa kali aku
berusaha sabar dengan tingkah mu dengan ketidakpedulian mu. Seberapa berartinya
aku? atau bahkan masih kah aku memiliki arti di hidup kamu? masih pentingkah
aku dihidup kamu? masih ada kah peran penting ku dalam hari-harimu? Dan ntah
masih banyak pertanyaan “masihkah aku yang menjadi satu-satunya yang ada dihati
kamu?”. segitu sibuknya kah kamu dengan pekerjaan mu yang sepertinya waktumu
tersita habis dengan nya.
Aku suka kamu mulai fokus dengan
masa depanmu yang mungkin juga akan menjadi masa
depan kita aaah masa depan kita? Mengucapkan itu rasanya membuat seluruh
otak ku bekerja dengan keras apa mungkin masa depan kita yang membuatmu sesibuk
ini, membuatmu mengabaikan aku, melupakan waktu mu untuk ku.
Disela jam istrahat mu bahkan aku
menjadikan hadphone satu-satunya pandangan yang terus ku lihat, berharap namamu
lah yang muncul dalam layar depan benda itu. Arrghhhh tapi percuma! Kau tak kunjung
menghubungiku untuk sekedar menanyai kegiatan ku atau perhatian-perhatian kecil
yang dulu sering kau lakukan, ya DULU .. dulu saat kau begitu memperhatikan
hari-hariku, menjadikan kegiatan ku suatu bagian yang penting kau ketahui. Tapi
aku tetap saja aku menunggu benda bodoh itu berdering. Aku sudah seperti si
tolol yang memperhatikan benda mati yang ntah kapan mewujudkan harapanku. Aissh
kabar dari mu saja sudah menjadi seperti harapan yang ditunggu-tunggu banget
-_- dan aku masih dengan lugu menunggu kabar dari mu di jam pulang kantormu.
Aku mulai berhenti berharap
hal-hal yang indah bersamamu. Kesibukanmu ketidak pedulian mu pengabaianmu membuatku
lelah. Rasanya takan ada lagi hal
indah bersamamu. aku ingat dulu, berulang kali ku sebut kata DULU, ya memang
DULU segalanya jauh lebih baik dari sekarang tapi sayang itu DULU. Dulu kita
punya waktu banyak buat sekedar main jalan-jalan ketawa bareng, bercanda
bareng, dan semua hal manis yang udah ngukir cerita dihidup aku
hidup kita. Kamu masih inget kan gimana kita dulu? Manis banget kan? Aku kangen
masa itu, jujur.
Yaa
aku tau sekarang kita bukan lagi anak-anak, remaja ya apalah itu yang sering
kau jadikan alasan ketika aku ngambek yang aslinya mah pengen diperhatiin. Kalimat
yang slalu jadi andelan mu “kita kan udah dewasa coba lah berfikir dewasa,
ngertiin aku dikit ya sayang aku kaya ginikan juga demi kamu juga demi kita”
alaaah basi! Demi kita? Demi ambisi kamu kali! Aku lelah sayang aku cape. aku
kangen kamu yang dulu, yang punya banyak waktu buat aku. kamu tau seperti apa
kamu sekarang? Yang ada di fikiranmu cuma kerja kerja dan kerja. Kamu terlalu
fokus sama ambisi mu! Kamu mengabaikan orang-orang disekitarmu, mengabaikan
orang-orang yang butuh kamu, aku. Dimana sosok aku dalam pikiranmu? Sudah kau
buang jauh-jauh kah? Rasanya aku tak pernah lagi ya menjadi sosok yang
menganggu fikiranmu. Ya iyaa wong Cuma kerjaan mu itu tok yang kamu pikirkan.
Kamu bilang aku kaya anak kecil,
kamu bilang aku harus dewasa, kamu bilang aku harus lebih ngertiin kamu. Aku mencobanya
selalu mencobanya sayang! Kamu sadar pengorbanan aku? Kamu sadar kesabaran aku?
dan apa kamu sadar dengan penantian ku? Bukan kah itu udah sebagian caraku
menjadi lebih dewasa? Untuk lebih
memahami kamu? dan sekarang bagaimana dengan diri kamu sendiri, dimana
pengertian mu dimana letak kedewasaan kamu?
Apa kamu mengerti akan rinduku? Apa
kamu ga sadar kalau AKU BUTUH KAMU! aku bukan pajangan yang bisa kamu simpen
ditempat manapun kamu suka, lalu kamu dengan bebas melakukan aktivitas kamu dan
merawat pajangan itu sesuka waktu kamu kalau kamu ingat dan sempat. Apa aku
menjadi seperti itu dimata kamu sekarang? Kamu berubah! Jauh! Dan aku benci.
Kau tau kan? Aku sulit untuk
membenci kamu. membenci orang yang
kucintai sama saja berusaha menghancurkan kebahagiaan ku. Ku mohon berubah
lah untuk ku, untuk kita. Peka lah dengan sosok yang merindukanmu ini .. aku
lelah bersabar untuk ambisi mu :’)



0 komentar:
Posting Komentar