Ketika hening yang tercipta. Ketika diam yang terus berbicara membisu tanpa suara. Dan ketika hanya jarum jam berdetak yang terdengar. Ketika pikiran yang terus memaksa beradu dengan hal-hal yang tidak ingin aku pikirkan, “sesibuk itukah kamu ?”
Malam tanpa bintang, malam tanpa langit yang cerah. Tetapi malam yang ku benci. Menerka dan menunggu kabar darimu. Menunggu dengan penuh kekhawatiran, menunggu dan terus menunggu. Aku benci ini semua !! Aku harus menerka-nerka sendiri. Aku harus menunggu, demi sebuah kabar dari seorang yang ada di sana terpisah jarak denganku.
Sesibuk itukah kamu ? Aku tau aktivitas dan kegiatanmu hari ini seolah menyibukkan dan menyita waktumu. Tetapi apakah tidak bisa dan tidak sempat sama sekali menyempatkan waktu hanya untuk menanyakan bagaimana kabarku seharian atau mengingatkan aku untuk sekedar jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut ? Apakah tidak sempat sama sekali kamu memegang ponselmu ? Apakah orang-orang dan aktivitasmu itu terlalu menyenangkan dan mengasyikkan sampai akhirnya kamu menomorduakan aku tanpa kabarmu malam ini ? Hingga akhirnya, apakah kamu akan tega membiarkanku mengemis perhatian hanya demi sebuah kabar darimu ?Selama ini apakah aku pernah menuntut kamu untuk selalu dua puluh empat jam menemaniku ? Apakah selama ini aku pernah mengeluh ketika aku merasa tidak diperhatikan ? Dan apakah aku pernah marah sedemikian hebatnya ketika kamu tidak mengabariku sama sekali ? Sedangkan aku pernah mengingatkanmu ketika waktu itu kamu pernah melewatkan malam tanpa mengabariku sama sekali. Dan ini terulang kembali. Aku benci !!


